June 16, 2010

Complaint is a gift.

Ingatlah komplain adalah gift. Pelanggan yang marah adalah pelanggan yang mencintai perusahaan Anda karena mereka sudah secara emosi terlibat dengan apa yang Anda tawarkan. Di balik komplainnya, pasti ada suatu hikmah yang dapat secara positif Anda tanggapi. Ubahlah “customers from hell” ini menjadi “heaven”. Jika keluhannya ditangani dengan tuntas, maka bukannya tidak mungkin mereka justru akan menjadi teman Anda.

Untuk dapat menangani secara tuntas dan dengan jiwa yang besar, maka Anda harus menganut sistem “penyangkalan diri”. Sekalipun tahu Anda berada pada posisi benar dan yang komplain salah, sangkallah hal itu. Sebaliknya, akuilah kalau yang komplain selalu benar dan Anda bersedia untuk tidak defensive. Dengan demikian, keikhlasan akan terbentuk dalam melayani.

Jika pelanggan yang komplain tersebut bukan termasuk target segmen Anda, apa jadinya? Layanilah dengan optimal. Tentunya tetap dalam koridor keikhlasan yang tinggi. Jika pelanggan tersebut berada pada posisi jauh di bawah kriteria target segmen Anda, maka secara natural mereka juga akan merasa diperlakukan dengan sangat istimewa karena komplainnya diperhatikan secara optimal. Namun jika mereka berada di atas kriteria target segmen Anda, maka mereka adalah “future target” dan juga menjadi “benchmark” buat perusahaan Anda, karena mereka mempunyai kriteria layanan yang lebih tinggi dari rata-rata target pelanggan yang telah Anda puaskan. Jadikan kasus ini sebagai sebuah pelajaran untuk melakukan continous improvement. Selamat bekerja.

Saya jadi teringat salah sebuah tulisan saya di pembelajar.com. Kutipan tadi jadi benar-benar membuka mata. Selama ini saya selalu percaya bahwa setiap perusahaan yang memiliki saluran untuk komplain berarti perusahaan yang belum percaya diri bahwa produk dan atau jasa yang mereka jual telah dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Terbukti dengan beberapa perusahaan yang tidak lagi membuka layanan keluhan pelanggan tetapi diganti menjadi suara konsumen.

Beberapa kawan memang menyatakan bahwa itu sekedar judul saja yang diubah. Tetapi tetap saja bahwa yang mereka terima adalah keluhan dari pelanggan. Saya tetap menyatakan bahwa itu memang mungkin terjadi di sisi konsumen, tetapi tidak dalam mind seluruh anggota perusahaan. Dalam mind semua pegawai perlu ditanamkan fikiran bahwa tidak ada lagi keluhan dari pelanggan atau konsumen. Tetapi hanya ada suara konsumen yang berupa saran. Sehingga tidak ada lagi pegawai perusahaan yang mempersepsi bahwa mereka siap untuk menerima komplain.

Yuliana justru menyatakan bahwa untuk memperlakukan konsumen menjadi “raja” justru dengan menerima komplain mereka. Saya jadi teringat akan sebuah hasil survey yang menyatakan bahwa para pelanggan atau konsumen yang puas bercerita hanya kepada 5 orang teman saja. Sementara pelanggan atau konsumen yang tidak puas akan bicara kepada 9 orang teman. Betapa besar pertumbuhan jumlah orang yang tahu betapa perusahaan yang Anda pimpin tidak berhasil memenuhi kebutuhan pelanggan.

Berkaitan dengan komplain tersebut ada hasil riset yang menyatakan bahwa hanya 4% dari pelanggan atau konsumen yang tidak puas, yang akan mengajukan komplain. Jadi bila Anda melihat di beberapa Rumah Makan Padang ada tulisan “bila Anda puas beritahu teman, bila Anda tidak puas beritahu kami” memang benar-benar harus sering disampaikan kepada semua pelanggan atau konsumen. Karena hanya sedikit yang bersedia memberitahukan kepada Anda, hal-hal apa saja yang tidak memenuhi keinginan mereka.
Dengan pengandaian ada 100 konsumen tidak puas maka hanya 4 orang yang komplain kepada Anda, sementara 96 orang lain akan cerita kepada 864 orang lain dan tersebarlah berita buruk tentang perusahaan Anda. Mari kita andaikan lebih jauh bahwa pada periode yang sama ada 100 konsumen yang puas dengan layanan yang diberikan perusahaan Anda. Maka akan ada 500 orang yang tahu bahwa perusahaan Anda dapat memberikan layanan sesuai kebutuhan konsumen.

Baru pada tahap pertama saja sudah lebih banyak orang yang tahu bahwa perusahaan Anda tidak mampu memberikan layanan sesuai kebutuhan konsumen. Hanya sangat sedikit dari 864 orang tadi yang mau mencoba layanan perusahaan Anda. Tetapi mari kita bayangkan bahwa 500 orang tadi mencoba layanan perusahaan Anda dan terbagi sama banyak, 250 orang puas sedangkan 250 orang lain tidak puas. Apa yang terjadi dengan perusahaan Anda?

Karena itulah tulisan ini diawali dengan kutipan bahwa komplain adalah gift. Setiap komplain berarti mengurangi kemungkinan ada berita buruk tentang perusahaan Anda yang tersebar. Dengan demikian penyebaran berita buruk tersebut menjadi terhambat. Belum lagi bila (seperti dalam kutipan tadi) bahwa komplain tersebut dapat ditangani dengan baik, berhasil dicarikan solusi untuk memperbaiki kesalahan perusahaan Anda atau solusi untuk memuaskan keinginan konsumen atau pelanggan.

Mungkin jadi masalah bagi Anda sekarang bagaimana memperbesar jumlah 4% tadi? Sama persis dengan Rumah Makan Padang yang tadi saya kutip. Tapi bukan sekedar jargon. Saya teringat sebuah Rumah Makan Padang di Semarang. Ketika saya hampir selesai makan langsung ada pelayan yang mendekati saya dengan catatan di tangan. Saya sempat berfikir buruk bahwa pelayan tersebut sudah bersiap-siap menghitung nilai makanan yang saya habiskan sehingga bisa segera ditagih saat saya selesai makan.

Ternyata tidak. Si pelayan dengan gaya yang akrab tapi cukup sopan bertanya apakah kuah gulai yang saya makan tidak terlalu pedas atau terlalu asin, kemudian disusul dua atau tiga pertanyaan lain yang berkaitan dengan kualitas makanan seperti apakah dendeng terlalu keras, dan apakah nasi terlalu basah. Hebatnya lagi, semua jawaban saya untuk pertanyaan yang dia ajukan langsung dia catat di buku catatan yang tadi dia bawa (saya jadi malu, ternyata buku itu bukan buku tagihan).

Ketika saya mengatakan bahwa kuah gulai terlalu asin dan dendeng terlalu keras, sang pelayan kemudian membawakan puding. Biar tidak terlalu berasa asin dan biar lupa kerasnya dendeng, Pak. Kata si pelayan sambil tersenyum. Saya pun tersenyum dan jelas saya tidak berani hanya cerita kuah gulai yang asin dan dendeng yang pedas saja. Setiap orang yang tanya kepada saya tentang rumah makan itu, saya ceritakan lengkap hingga puding yang disajikan dengan senyum tadi.

Jadi mengapa menunggu konsumen atau pelanggan Anda mengajukan komplain, mengapa bukan Anda yang mencari langsung dari mereka sebelum mereka bicara ke orang lain?

Majalah Marketing Edisi 07 tahun 2006

June 2, 2010

Boys will be boys

Copied from Joan De la Haye's blog, This humor tag post may refresh our day.
Today’s twisted comedy Sunday, was an email I received from my mother. I hope get a good giggle out of it. I know I did.

The Polite Way to Pee

During one of her daily classes a teacher trying to teach good manners asked her students

Teacher: “Michael, if you were on a date having dinner with a nice young lady, how would you tell her that you have to go to the bathroom?”

Michael: “Just a minute I have to go pee.”

Teacher: “That would be rude and impolite.”

Teacher: “What about you Peter, how you would say it?”

Peter: “I truly am sorry, but I really need to go to the bathroom. I’ll be right back.”

Teacher: “That’s better, but it’s still not very nice to say the word bathroom at the dinner table.”

Teacher: “And you, Little Johnny, can you use your brains for once and show us your good manners?”

Little Johnny: “Darling, may I please be excused for a brief moment? I have to shake hands with a very dear friend of mine, whom I am hoping you will get to meet after dinner.”

The teacher fainted …

April 29, 2010

Hari jadi

Tak selamanya hari ulang tahun itu menyenangkan, buktinya saya, walau sudah berkurang umur setahun, rasa sedih masih menjadi sesuatu yang sulit dihilangkan setelah tim favorit Barcelona gagal ke santiago bernabeu untuk final Champion League. whahahaha....

"Life still goes on" seperti yang dikatakan bachman dalam album Turner overdrivenya, menjadi hal yang sangat lumrah, sama halnya hari-hari lain, peringatan lain ataupun seremonial yang mengharuskan kita mengucapkan terima kasih dan sebagainya.

Kita adalah bagian dari rentetan waktu yang terus berputar bagaimanapun keadaan kita. Sedih, bahagia dan lain sebagainya hanyalah tautan emosi sesaat, yang jika di periode hdup selanjutnya bisa berubah dan mungkin tak bersisa.

Tinggal pertanyaan yang ada, mau kita apakan perubahan itu, apa yang akan kita lakukan demi perubahan diri dan sekeliling kita, agar putaran itu tidak menjadi roda gila yang bisa membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita inginkan.

Terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan koreksi dan sambutan tangan, semoga kedepan kita bisa saling berbagi dan mengisi, sebagaimana roda mesin yang kesemuanya takkan berputar jika salah satunya enggan untuk bergerak.

Semoga kita bisa menciptakan keindahan dalam bingkai kehidupan kita. Dengan harapan yang begitu banyak dan umur yang makin berkurang, kita lakukan yang terbaik, apa yang kita lakukan hari ini insya Allah akan berdampak besar dikemudian hari, Amin! (prikitieuw..!)(300410)

April 19, 2010

Melatih Kekuatan Memilih


"Trouble is a friend." - Lenka

Sahabat, setiap kita saat ini adalah hasil dari keputusan dan tindakan kita di masa lalu. Tindakan dan keputusan kita bertahun yang lalu, punya peran membentuk diri kita saat ini. Keputusan dan tindakan kita kemarin, telah menjadikan kita sebagaimana kita yang hari ini.

Melatih Kekuatan Memilih


Maka sahabat, setiap keputusan dan tindakan kita hari ini, akan menentukan bagaimana kita di masa depan. Jika kita menginginkan kebaikan terjadi pada diri kita di hari esok, maka segala keputusan dan tindakan kita hari ini, juga harus menjadi keputusan dan tindakan yang baik-baik.


Keputusan dan tindakan yang baik, adalah keputusan dan tindakan yang sangat jelas memberi sinyal tentang arah di dalam rute yang benar menuju kepada kebaikan kita di masa depan.Keputusan dan tindakan yang baik adalah bukan yang berbelok arah, dan bukan pula yang berbalik arah dari rute itu.

Kita sering sekali merasakan kesulitan untuk meyakini tingkat kebaikan yang tepat terkait dengan keputusan yang kita ambil dan tindakan yang kita lakukan.

"Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

Perasaan seperti itu bisa berakibat buruk pada kestabilan diri dan menciptakan keraguan serta kegamangan. Akibatnya, perjalanan kita menuju kepada kebaikan akan kita rasakan sebagai langkah-langkah yang terseok dan rapuh. Diri, pikiran, dan perasaan kita juga akan menjadi lebih rapuh, menjadi lebih rentan di hadapan badai kehidupan.

Itu sebabnya sahabat, kita memerlukan keyakinan yang lebih kuat di dalam mengambil keputusan dan melakukan tindakan. Hanya dengan ini, maka mata dan hati kita juga hanya akan tertuju ke depan. Dan tentunya, keadaan ini akan membuat kita bisa memudahkan jalan menuju kepada kebaikan yang kita cita-citakan.

Keyakinan, sering kita anggap sebagai sesuatu yang sulit kita capai tingkatan idealnya. Ini ada benarnya, sebab keyakinan adalah tiang penyangga yang kekuatannya tidak datang begitu saja. Kekuatan keyakinan, adalah kekuatan yang harus kita bangun setiap saat, setiap hari.

"Apakah keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

adalah

"Apakah saya yakin bahwa keputusan yang saya ambil ini sudah baik dan tepat?"
"Apakah saya yakin tindakan yang akan saya lakukan ini sudah baik dan tepat?"

Dan sungguh sahabat, Tuhan begitu menyayangi kita dengan menganugerahkan sebuah kemampuan yang memang sesuai dengan kesanggupan setiap manusia. Dengan kemampuan itu, setiap kita telah diciptakan untuk mampu membangun keyakinan. Kemampuan itu, adalah kemampuan untuk MEMILIH.

HAL TERPENTING DI BALIK SETIAP KEPUTUSAN DAN TINDAKAN

Hal terpenting di balik setiap keputusan dan tindakan, adalah PILIHAN. Dengan kata lain, setiap keputusan dan tindakan adalah identik dengan PILIHAN. Dan kita sama mengetahui, bahwa setiap penyimpangan, kemunduran, atau terhentinya perjalanan menuju kepada kebaikan, hanya disebabkan oleh kegagalan dalam mengambil keputusan dan dalam melakukan tindakan. Maka sesungguhnya, kegagalan itu adalah kegagalan di dalam menetapkan PILIHAN.

Dengan kata lain sahabat, berhasil atau tidaknya kita mencapai tujuan dan cita-cita kebaikan, adalah ditentukan oleh besarnya kekuatan dari PILIHAN yang kita tetapkan.

PILIHAN itu sendiri adalah fenomena obyektif yang dihamparkan di hadapan kita setiap saat, setiap waktu. Dengan obyektifitasnya itu, maka PILIHAN adalah sesuatu yang netral dan apa adanya. Dalam pada itu, segala pilihan kebaikan yang kita tetapkan sebagai tujuan di dalam kehidupan, adalah sesuatu yang amatsubyektif sifatnya, di mana untuk menuju kepada kebaikan ada begitu banyak pintu-pintu kebaikan. Apa yang perlu kita tempuh dengan demikian, adalah menjadikan diri kita sebagai pribadi-pribadi yang mempunyai kekuatan di dalam MEMILIH.

BERDIRI ATAU JATUH DI HADAPAN PILIHAN

Setiap kali kita dihadapkan pada PILIHAN, maka pada ketika itu SESUNGGUHNYALAH fungsi kemanusiaan kita sedang berada di titik PUNCAKNYA. Ketika kita berada di tengah masalah, kita berada di tengah hutan rimba PILIHAN. Segala hal yang berkecamuk di dalam pikiran dan perasaan kita, adalah hamburan-hamburan PILIHAN. Ketika itulah, kekuatan kita di dalam menetapkan PILIHAN menjadi sangat berperan.

Pada ketika itu, inilah yang berlangsung dan terjadi pada diri kita sebagai normalnya manusia:

1. Kita sebenarnya TEGAK BERDIRI sebagai manusia dengan keaktifan PERASAAN di titik puncak.

2. Kita sebenarnya TEGAK BERDIRI sebagai manusia dengan keaktifan PIKIRAN di titik puncak.

Hanya PERASAAN yang mendominasi lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJATUH ke dalam PILIHAN yang impulsif, kompulsif, atau obsesif, yang akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang terjadi karena gagalnya upaya untuk tetap mengarah kepada kebaikan. Penyesalan yang terjadi akibat pengambilan keputusan yang berujung pada tindakan yang justru mensabotase kebaikan. Kita sering menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang kurang menggunakan AKAL SEHAT.

Hanya PIKIRAN yang mendominasi lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJATUH ke dalam PILIHAN yang rigid alias kaku dan berdarah dingin, yang juga akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang juga terjadi karena gagalnya upaya untuk tetap mengarah kepada kebaikan. Penyesalan yang terjadi akibat pengambilan keputusan yang berujung pada tindakan yang justru juga mensabotase kebaikan. Kita sering menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang KURANG BERPERASAAN.

Lebih dari itu sahabat, hanya PERASAAN dan PIKIRAN yang mendominasi JIWA lebih dari proporsinyalah, yang membuat kita TERJERUMUS ke dalam pilihan yang buruk, yang jauh dari kebaikan, yang dipastikan akan menjadi sebab bagi penyesalan kita di kemudian hari. Penyesalan yang terjadi karena KEGAGALAN KEMANUSIAAN yang meng-gagal-total-kan kebaikan. Kita akan menyebut hal ini sebagai keputusan dan tindakan yang TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN.

Dari itu sahabat yang baik, apa yang perlu kita lakukan adalah terus belajar di dalam kebaikan, dengan terus berlatih guna menguatkan KEKUATAN MEMILIH, agar perasaan dan pikiran tetap menjadi "alat" kita dan tidak sebaliknya malah "memperalat" kita yang sebenarnya sedang menuju kepada cita-cita kebaikan.

MELATIH KEKUATAN MEMILIH

Demi ekologisnya PILIHAN keputusan dan tindakan kita saat ini, dan demi ekologisnya semua itu dengan masa depan, maka kita perlu berhati-hati menetapkan PILIHAN keputusan dan PILIHAN tindakan. Agar kita sebagai manusia yang baik-baik, tidak TERJATUH atau TERJERUMUS dan kemudian terlepas dari kebaikan kemanusiaan.

Sahabat, "ekologis" itu mudahnya adalah, "tetap melekat pada kebaikan dan terus membawa kebaikan, kapanpun dan dimanapun."

Mari kita sama-sama belajar dan berlatih.

Sahabat, perhatikanlah daftar berikut ini dan jika perlu tambahkanlah sendiri daftar ini sesuai dengan kondisi dan keadaan sahabat, apapun kondisi dari PERASAAN dan PIKIRAN sahabat saat ini.

01. TAQWA versus FUJUR
02. BENAR versus SALAH
03. PAHALA versus DOSA
04. BERMORAL versus AMORAL
05. BAIK versus BURUK
06. PINTAR versus BODOH
07. SMART versus STUPID
08. CANTIK versus TIDAK CANTIK (bukan tentang fisik)
09. COOL versus NOT COOL
10. KEREN ABIEZ versus NORAK ABIS
11. GUE BANGET versus BUKAN GUE BANGET (di dalam kebaikan)
12. AMAN versus TIDAK AMAN (bagi kebaikan)
13. MEMULUSKAN versus MENGHAMBAT (proses menuju kebaikan)
14. NYAMAN versus TIDAK NYAMAN (untuk kebaikan diri sendiri)
15. BERANI (karena benar) versus TAKUT (karena salah)
16. HIDUP versus MATI
17. BERSYUKUR versus TIDAK BERSYUKUR
18. SABAR versus AMARAH
19. ENAK versus MEMUAKKAN
20. BIJAK versus TIDAK BIJAK
21. CINTA versus BENCI
22. ADIL versus DZALIM
23. KAYA versus MISKIN (bicara akibat)
24. KEBAHAGIAAN versus PENDERITAAN (bicara akibat)
25. KETERATURAN versus KEKACAUAN
26. MENANG versus KALAH
27. SELESAI versus TAMBAH RUNYAM
28. Dan seterusnya.

Sahabat bisa menambahkan pasangan-pasangan kontras sebanyak yang sahabat mau, sesuai yang bisa sahabat PIKIRKAN dan RASAKAN saat ini. Semakin sahabat menambahkannya, semakin banyak pintu-pintu kebaikan yang berpotensi sahabat masuki.

Sahabat, apa yang kita lakukan setiap saat adalah memberi MAKNA, sebab kehidupan adalah tentang MAKNA. Dan kita, baru saja memberi MAKNA bagi berbagai kemungkinan keputusan dan tindakan yang dihadapkan kepada kita setiap saat dan setiap hari.

MAKNA-MAKNA itu, akan kita jadikan LABEL alias penanda bagi berbagai kemungkinan sebagai calon PILIHAN. LABEL-LABEL itu, adalah PINTU-PINTU menuju kepada kebaikan.

Pasangan LABEL itu secara sengaja dan khusus saling kita hadapkan sebagai dua kutub yang bertentangan. Di dalam teknik persuasi, upaya ini disebut dengan "the power of contrast".

Ingatlah sahabat, bahwa ketika kita me-LABEL-kan sebuah makna, maka LABEL itu melekat pada berbagai kemungkinan dan BUKAN pada DIRI KITA. LABEL-LABEL itu mewakili karakteristik, sifat, dan potensi dari berbagai PILIHAN kita nantinya.

Ketika kita berhadapan dengan berbagai kemungkinan keputusan dan tindakan kehidupan, tahan dirilah sejenak untuk tidak langsung menetapkan PILIHAN KEPUTUSAN atau bahkan langsung melakukan apa yang menjadi PILIHAN TINDAKAN. Tuailah manfaat terbesar dari kesabaran, yaitu KEKUATAN UNTUK MEMILIH. Dan inilah yang perlu sahabat lakukan di saat JEDA itu.

Pertama, urutkanlah ulang semua koleksi LABEL di atas.

Ketika sahabat melakukannya, jangan lupa untuk MENGAMBIL angka nol (0) yang berada di depan semua angka di atas. Angka nol itu tidak kita buang, melainkan kita tanamkan kepada diri kita, bahwa itu adalah sebuah SIMBOL bagi jiwa kita yang baik, bahwa kita sedang dengan sengaja berdiri di titik nol, alias di titikNETRAL. Dengan tidak lagi mengandung angka "nol" di depannya, hasil pengurutan ulang yang sahabat lakukan, akan sangat mencerminkan tingkat kepentingannya bagi sahabat sendiri.

Mengurutkan ulang ini bisa kita lakukan dengan merasakan pengaruh terbesar dari pasangan LABEL terhadap perasaan dan pikiran kita. Misalnya saja, kita sangat benci disebut "BODOH" maka tentunya kita akan sangat senang disebut "PINTAR". Pada hari-hari yang lain, kita mungkin lebih senang disebut "ADIL" dan sangat tidak senang disebut "DZALIM". Ini sangat tergantung pada mood, atau kondisi perasaan dan pikiran kita pada suatu saat.

Apa yang biasanya terjadi, adalah otomatisnya kita melekatkan berbagai LABEL itu ke diri kita sendiri.Jika orang lain yang melakukannya, maka kita cenderung meng-ya-kannya. Maka kita bisa memaklumi, bahwa akibatnyapun akan sangat mungkin menjadi keputusan dan tindakan yang juga otomatis, yang justru menjatuhkan atau menjerumuskan.

Itulah keadaan di mana kita sedang "diperalat" oleh pikiran dan perasaan kita sendiri. Salah satu ciri dari kondisi "diperalat", adalah ketika kita berada dalam situasi "miskin pilihan pasangan LABEL". Misalnya, ketika kita melihat suatu persoalan hanya sebagai "MENANG versus KALAH". Padahal, belum tentu bahwa "MENANG versus KALAH" adalah di puncak peringkat.

Menjalani proses jeda dan mengurutkan ulang ini, adalah upaya awal bagi kita untuk menggeser semua LABEL agar tidak lagi "memperalat" melainkan menjadi "alat" yang bisa kita gunakan untuk mengelola PILIHAN-PILIHAN.

Mengurutkan ulang ini, juga bisa dilakukan dengan menjawab pertanyaan, "Apa yang paling penting buat saya saat ini?" - Apapun jawaban yang sahabat dapatkan, selalulah menjadikannya sebagai pasangan LABEL yang saling bertentangan. Misalnya, jika yang paling penting bagi sahabat pada suatu saat adalah "SELESAINYA MASALAH", maka pasangan kontrasnya adalah "MASALAH TAMBAH RUNYAM".

Sahabat, apapun hasil dari mengurutkan ulang di atas, adalah cerminan dari kondisi dan situasi diri sahabat pada saat itu. Dan manapun pasangan LABEL yang berada di puncak peringkat, hanya berarti satu, yaitu bahwa sahabat sedang berada di puncak performa sebagai pribadi yang sesungguhnya baik.

Maka sahabat, mengurutkan ulang semua pasangan LABEL sebagaimana di atas, adalah upaya mengakomodasi perasaan dan sekaligus pikiran dengan tetap berada di dalam kerangka kebaikan.

Kedua, ambillah satu pasangan LABEL yang sedang berada di puncak peringkat. Misalnya "BAIK versus BURUK". Mulai dari sini, konsistenlah HANYA dengan pasangan LABEL ini saja (lihat note di bagian bawah ini).

Ketiga, bersiaplah untuk melekatkan pasangan LABEL itu kepada kemungkinan-kemungkinan keputusan dan tindakan yang sedang sahabat hadapi. Tapi, tunda dulu proses ini.

Keempat, PILIHLAH SATU LABEL untuk MEMAKNAI setiap kemungkinan keputusan dan tindakan yang kita hadapi.

Kemudian, mulailah sahabat melakukan LABELLING. Misalnya, "kemungkinan A" berlabel "BAIK", "kemungkinan B" berlabel "BAIK", "kemungkinan C" berlabel "BURUK" dan seterusnya.

Di awal proses, kemungkinan keputusan dan tindakan itu mungkin saja lebih dari dua, atau bahkan banyak. Akan tetapi, lekatilah dengan HANYA salah satu dari dua PILIHAN LABEL MAKNA di puncak peringkat. Jangan gunakan LABEL dari pasangan LABEL di peringkat yang lain, sebab itu akan memicu "konflik internal" di dalam perasaan dan pikiran sahabat.

Sejalan dengan waktu, sahabat akan menemukan bahwa setiap masalah sebenarnya hanya akan bermuara pada dua ujung yang sifat, karakter, dan potensinya bertolak belakang.

Kelima, simpulkan.

Kini sahabat memiliki cara yang lebih mudah dan lebih bijak untuk menetapkan PILIHAN keputusan dan PILIHAN tindakan, sehingga Insya Allah keputusan dan tindakan sahabat memang bisa sahabat yakini mengarah kepada tujuan kebaikan.

Note: Dalam hal terjadi keseimbangan hasil di antara dua LABEL kontras, barulah sahabat bisa bergeser ke pasangan LABEL di peringkat berikutnya. "Tata tertib" ini memang diperlukan agar tidak memicu "konflik internal" sebagaimana diungkapkan di atas.

Peringkat dari pasangan-pasangan LABEL itu juga akan berubah-ubah urutannya, tergantung pada situasi dan keadaan pikiran dan perasaan sahabat di setiap saat. Peringkat hari ini mungkin akan berbeda dengan peringkat besok. Apa yang penting, adalah sahabat selalu mempunyai pasangan kontras, di mana yang satu menuju kepada cita-cita kebaikan dan satu lagi sebaliknya.

Semoga, kita semua bisa lebih banyak berlatih dan belajar setiap hari, ketika kita dihadapkan pada berbagai PILIHAN kemungkinan dari keputusan dan tindakan di dalam hidup yang menuju kepada kebaikan. Sehingga, apapun LABEL yang sedang kita lekatkan kepada berbagai kemungkinan itu secara obyektif, sahabat tetap berdiri sebagai pribadi yang secara subyektif baik.

Semoga sahabat semua menjadi lebih mudah menemukan cara yang memuluskan jalan menuju kepada cita-cita kebaikan. Aamiin. Aamiin.

O ya sahabat, bukankah semua pelajaran di atas sesungguhnya adalah tentang MELATIH HATI NURANI?

Copied from Friend's blog

April 17, 2010

Relax your mind

Another movie pertaining to what Sam experienced at World of Pandora, but this is NOT Sam as Jake Sully and this is really super funny !!!!! love how his neck and half his face aren't even covered in blue haha..





Guys, Thanks for Watching. This is for this Sunday Relaxxxx......... anyway i have seen Avatar movie 5 times in Makassar and this week I've seen it twice more, one of that was attached movie above. hiehiehiehie..

April 9, 2010

Zhang Da, Bocah 10 Th Yang Menerima Penghargaan

Sebuah kisah inspirasional dari negri China

Pada tanggal 27 Januari 2006 Pemerintah China memberikan penghargaan kepada 10 orang yang luar biasa diantara 1,4 milyar penduduk China, salah satunya adalah Zhang Da yang berasal dari Propinsi Zhejiang China. Kecintaan dan perhatiannya yang besar kepada ayahnya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta kisah kehidupannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas menerima penghargaan tersebut.
Kisah ini bermulai pada tahun 2001 ketika Zhang Da ditinggal pergi oleh Ibu yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan harus merawat suaminya yang sakit keras. Sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang ayah yang berjalan pun tidak bisa apalagi untuk bekerja karena selalu sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa Zhang Da yang pada waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat.

Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat, menggendong dan memandikan ayahnya ke WC, menyiapkan makanan untuk ayahnya, Ia harus sekolah, mencari makan untuk dirinya dan ayahnya serta memikirkan hal untuk membeli obat-obat untuk ayahnya dan segala urusan untuk ayahnya menjadi tanggung jawabnya seorang, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.

Dalam keadaan yang sangat sulit itu, ia memutuskan untuk tetap melanjutkan sekolah. Perlu diketahui bahwa dari rumah sampai sekolah ia harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanannya, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan para tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk Ayahnya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun.

Untuk mengatasi masalah Obat – Obatan yang mahal dan jauhnya tempat berobat, Zhang Da berpikir untuk menemukan cara mengatasinya. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan suntikan kepada pasiennya. Dan setelah ia merasa mampu, ia nekad untuk menyuntikan sendiri.

Pada saat acara penganugerahan penghargaan tersebut, yang dihadiri oleh para pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal, pembawa acara bertanya kepadanya, “Zhang Da, apakah sekarang yang kamu inginkan, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan, nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini banyak orang yang dapat mengabulkan keinginan kamu. Namun Zhang Da hanya terdiam dan tidak menjawab
apa-apa. Pembawa acara pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suaranya ia menjawab, “Aku Mau ibu Kembali. Ibu kembalilah ke rumah, aku bisa membantu ayah, aku bisa cari makan sendiri, Ibu Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.


Pesan : Keteguhan hati Zhang Da dalam menjalani kehidupan yang sangat keras, kemauan belajar untuk mengatasi kesulitan yang ia hadapi, tekadnya untuk berjuang demi orang yang ia sayangi (ayahnya) baiknya menjadi inspirasi tersendiri untuk kita. Janganlah kita selalu berkeluh kesah terhadap kesulitan yang kita hadapi serta menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk menyerah menghadapi kesulitan.

(Dikopi dari website tetangga)

March 6, 2010

Bilin Palestina, Perhatian Media dan Avatar


Demonstran Bilin memang terkadang menampilkan aksi yang tak terduga, tapi mengapa dalam demonstrasinya mereka menampilkan tokoh Avatar?Ada yang berbeda dalam protes mingguan yang biasa digelar setiap Jumat oleh para demonstran di Desa Bilin. Pada protes tanggal 12/2 lalu mereka menghadirkan Avatar di desa yang dikepung pagar-pagar pembatas buatan Israel itu.

"Ketika orang di dunia yang telah menyaksikan film itu melihat demonstrasi kami dan kondisi yang melatarbelakangi aksi tersebut, mereka akan menyadari bahwa situasinya mirip," kata Muhammad Khatib, salah seorang penyelenggara protes Bilin yang sudah cukup dikenal.

Dalam wawancaranya dengan AOL News, Khatib menjelaskan bagaimana ide tokoh Avatar digunakan dalam demonstrasi itu muncul.

Liana Badr, seorang pembuat film dokumenter menceritakan bahwa ia sangat terkesan dengan persamaan pengalaman yang dialami oleh orang-orang Palestina di Tepi Barat. Oleh karena itu ia merekomendasikannya kepada Khatib. Karena Khatib dan kawan-kawan tidak bisa menonton film itu, maka seorang aktivis menyelundupkan rekamannya.

Setelah menyaksikan, Khatib dan kawannya mencari tahu informasi seputar film tersebut. "Kami membaca para penduduk China mengadopsi nama pegunungan yang ada di film menjadi nama pegunungan di desa mereka. Ratusan juta orang menontonnya dan banyak bersimpati kepada Na'vi."

Bersama dengan para aktivis Israel yang biasa ikut demo, mereka lantas mempersiapkan aksinya. Ibrahim Al-Kadi, seorang seniman lokal dirangkul untuk menangani tata rias demonstran. Sementara lainnya mengumpulkan barang bekas untuk disulap menjadi properti "pertunjukan".

Enam hari kemudian, lima orang demonstran, termasuk tiga di antaranya orang Israel, bergerak menuju lokasi yang biasa diblokade tentara Israel lengkap dengan perlengkapan Na'vi mereka.

"Awalnya mereka terkejut melihat kami," kata Khatib sambil tertawa. "Tapi mereka kemudian mulai menyorot kamera, dan kami merasa seperti dalam salah satu adegan film. Bedanya yang ini nyata, dan terjadi di sebuah desa."

Meskipun banyak tanggapan muncul dari Israel, mereka tidak terlalu mengacuhkannya. Karena tujuan mereka sudah tercapai, yaitu menarik perhatian media internasional.

"Kami menyampaikan pesan: Mereka tidak bisa mengambil seenaknya apa yang mereka mau. Ini adalah tanah kami!" kata Khatib.

Avatar dan Yahudi

Aneh memang melihat para demonstran menggunakan tokoh film Avatar dalam aksinya. Bagaimana tidak, Avatar dibuat oleh orang Yahudi dan sarat pesan ajaran Yahudi. Para rabi di seluruh dunia bahkan bersorak gembira dengan kehadirannya.

Rabi Benjamin Blech dalam tulisannya yang dimuat media online, Yahudi, Aish, bahkan menulis, "Bagi para penonton yang relijius, banyak pesan yang terkandung dalam film itu dan menunggu respon teologis baik pro maupun kontra. Tidak mengejutkan jika pesan spiritual yang sangat banyak itu menarik perhatian Vatikan, di mana film tersebut direview oleh Gaetano Vallini, seorang kritikus budaya di surat kabar harian gereja Vatikan, L’Osservatore Romano."

Blech menilai review itu bersifat negatif, mengingat reviewnya kemudian ditampilkan juga oleh berbagai jurnal dan surat kabar Katolik di seluruh dunia.

Beberapa pesan ajaran Yahudi sangat terlihat jelas. Antara lain pembuatan film dalam bentuk 3 dimensi, yang memerlukan kacamata khusus untuk bisa menyaksikannya dengan baik. Itu adalah sebuah metafora di mana kita harus bersiap untuk "melihat", melihat dengan apa yang sering disebut dengan "mata ketiga", kata Blech.

Ajaran Yahudi memang banyak menyebut "mata" secara khusus sebagai lambang dari tuhan mereka. Lambang mata satu yang dikenal sebagai salah satu simbol ajaran kabalistik adalah simbol yang juga diagungkan Yahudi.

Bangsa Na'vi. Kata Blech, ada orang yang mengatakan padanya bahwa nama itu tidak ada kaitannya dengan "navi" dalam bahasa Hebrew yang berarti nabi. Tapi yang pasti adalah--dan pastinya James Cameron sang empunya film keturunan Yahudi mengetahuinya--akar kata navi arti sesungguhnya adalah "seer", yaitu seseorang yang memiliki kemampuan melihat melebihi orang lain pada umumnya. Dan itu adalah inti dari cerita film tersebut, tulis Blech.

Na'vi dalam cerita itu tidak menyembah dirinya sendiri atau cita-citanya, tapi mereka memuja suatu kekuatan yang sangat agung, yang mereka sebut "eywa". Kata itu tidak lain dan tidak bukan merupakan tetragamaton, empat huruf suci bagi Yahudi yang mewakili nama tuhannya, yang tidak berani mereka ucapkan ataupun tulis dengan jelas.

Dalam kitab suci Yahudi, tuhan mereka biasa ditulis dengan YHVH, atau dikenal umum dengan Yehovah, Yahweh, dan lain-lain. Tidak ada yang baku, karena seperti kata rabi Fred Guttman dalam tulisannya yang dimuat Ethicsdaily, "YHVH adalah kata paling suci untuk tuhan dalam kitab suci dan tidak terlihat jelas dalam pengucapannya, kecuali hanya berupa helaan nafas."

Menurut Guttman, ucapan "I see you" juga mengandung pesan mirip dengan filosofi "I-Thou" yang dijabarkan filsuf Yahudi kelahiran Austria, Martin Buber.

Karakter bangsa Na'vi yang menjaga bumi juga mirip dengan pesan dalam kitab Yahudi, yang berulang kali menyebutkan bahwa bumi adalah tempat yang sangat penting bagi mereka dan terkait erat dengan aturan hukum mereka. Sebagai contoh dalam Deuteronomy 20:19 dikatakan bahwa jika Yahudi memaksa berperang dalam kurun waktu tertentu di mana mereka dilarang untuk berperang, maka mereka diperintahkan untuk tidak menebang pohon-pohon yang berada di daerah tempat tinggal mereka, sebagai hukumannya.

Planet Pandora yang penuh dengan pepohonan, merupakan metafora dari ajaran Pohon Pengetahuan dalam kitab Kejadian.

Dan gunung di planet Pandora yang "menggantung di atas kepala" mereka adalah perumpamaan, ketika Yahudi disuruh berdiri di bawah kaki Bukit Sinai, berjanji untuk selalu mentaati aturan tuhannya.

Penyelamat bangsa Na'vi adalah seorang manusia mantan marinir yang lumpuh. Itu adalah gambaran dari Nabi Musa yang dulu menyelamatkan bangsa Yahudi dari Fir'aun. "Musa sulit bicara dan memiliki lidah yang berat, yang dikirim untuk menyampaikan pesan," tulis Blech.

"Dengan kecacatannya ia menyebarkan pesannya. Dalam film tersebut digambarkan seorang marinir yang tidak dapat berjalan, tapi berhasil membimbing bangsa Na'vi mempertahankan hidupnya dan menemukan jalan menuju nenek moyang mereka."

"Jika saja Cameron tidak pernah mendatangi sekolah Yahudi, ia pasti mendiskusikan karyanya terlebih dahulu dengan seorang rabi," tulis Blech, mengomentari begitu saratnya pesan Yahudi dalam film Avatar, sehingga tidak mungkin dikatakan hanya sebagai kebetulan belaka.

Bilin yang terkurung

Bilin adalah sebuah desa Palestina yang berjuang untuk tetap eksis, mempertahankan tanah, pohon zaitun , kekayaan, dan juga kebebasan penduduknya.

Setelah Perang Enam Hari di tahun 1967, Bilin jatuh ke tangan Israel. Perjanjian sementara atas Tepi Barat dan Jalur Gaza tahun 1995, menetapkan kawasan itu dikelola oleh Otorita Nasional Palestina.

Seperti biasa Israel tidak menerima begitu saja. Mereka merampas lagi tanah-tanah di Bilin, membangun pagar pembatas beton maupun kawat, serta mendirikan rumah-rumah untuk pemukiman Yahudi. Sekarang hampir 60% wilayah Bilin telah dikuasai Israel, sementara rakyat Palestina terkurung dalam pagar beton dan kawat yang membentuk penjara terbuka bagi mereka.

Penduduk memprotes kekejaman Israel. Setiap kali mereka protes, selalu dibalas dengan tembakan, penangkapan, pengrusakan rumah dan tanaman, serta kekerasan lainnya. Meskipun demikian mereka tidak pernah kapok.

Demonstrasi terus dilakukan hingga akhirnya menarik perhatian lebih banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk dari Israel. Para aktivis HAM dan perdamaian datang ikut bergabung. Kelompok sayap kiri Israel seperti Gush Shalom, Anarchists Against the Wall dan Solidarity Movement juga ikut serta. Demonstran semakin terorganisasi, karena tidak lagi hanya melibatkan penduduk desa.

Tahun 2005 demonstrasi mulai dilakukan secara rutin satu pekan sekali, yaitu setiap hari Jumat. Materi demonstrasi semakin beragam dan teatrikal. Tidak jarang mereka menampilkan aksi teatrikal dilengkapi dengan berbagai macam gambar dan properti unik.

Ketika masyarakat Jerman merayakan runtuhnya Tembok Berlin ke-20 Nopember tahun lalu, para demonstran Bilin juga ikut meruntuhkan tembok pembatas beton Israel. Sinterklas bahkan juga pernah ikut berdemonstrasi di Bilin. Tujuannya hanya satu, agar masyarakat internasional tidak lupa bahwa penduduk desa Bilin masih terus terkurung dan teraniaya oleh Israel.

Dipilihnya Avatar sebagai aksi teatrikal demonstran Bilin, menimbulkan pertanyaan besar: Apakah mereka sudah disusupi oleh pemikiran Yahudi dan Israel? Ataukah hanya sekedar mengikuti trend dan sebagai kebetulan belaka? "Nothing is coincidence," begitu orang Barat sering mengatakan. [ Source: Hidayatullah.com]
TakingITGlobal - Inspire. Inform. Involve.