June 15, 2007

Donor Darah

Dengan target memenuhi janjian jam 11.00 pagi ini, saya berangkat meninggalkan rumah pukul 10.45 waktu jam tangan saya. Pagi ini memang saya cuma berencana bertemu dengan Prof. Husni Tanra di Rumah Sakit. Akademis untuk melaporkan dan menyelesaikan laporan keuangan dan kegiatan di Jogjakarta pekan lalu, tak lupa pula juga saya membawa tas kecil yang biasanya terselip kartu merah didalamnya.

Sampai disana, diruangan beliau, kami berdiskusi sejenak dan sedikit beradu opini didalam pertemuan itu, maka akhirnya selesailah pertemuan tersebut dengan meninggalkan banyak perbaikan laporan disana-sini termasuk beberapa pesan dari beliau – yang juga Ketua AMDA Indonesia (Association Medical Doctors of Asia), LSM yang bergerak dibidang kesehatan dan penanggulangan medis darurat)- sebagai masukan final dalam laporan yang saya buat. Siang ini, dengan perasaan melegakan, ditambah lagi melihat “Bos” saya itu mengacungkan kedua jempolnya ke saya (mantaph!), langkah ini kayaknya ringan sekali.

Keluar dari rumah sakit dengan bangga menenteng laporan yang telah di "approved", "wah.. nyamanna kalo minum kopi ini duluee.." pikirku sambil mengeluarkan bobi -sapaan motorku- dari ruwetnya jejeran motor parkiran di rumah sakit ini.

Menuju ke salah satu warung kopi langgananku di daerah pengayoman, kembali saya teringat kartu merah yang terselip di tas kecilku. "Perasaan.. lama-lamaka' lagi tidak donor nyawa ini ee.." benak ini berputar mengingat waktu terakhir donor nyawa sambil mencoba menghubungkan gimana caranya minum kopi dan donor nyawa ini dapat berjalan walaupun tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.

Akhirnya saya putuskan menuju ke Jalan Lanto Dg. Pasewang ke kantor Palang Merah Indonesia Makassar. Tempat ini -dimana kata Guruku beberapa waktu lalu “ini tempat sumbang nyawa”- sudah sangat tidak asing lagi bagi saya. Mulai pada saat gedungnya masih berornamen rumah belanda sampai model semi modern, saya masih mengenalnya dengan baik, bahkan hampir semua pegawainya baik yang tua maupun yang muda saya kenal walaupun beberapa dari mereka hanya kenal muka saja.

Tapi sebelum saya masuk, biasanya saya melirik ke sebelah kanan gedung dulu tuk memastikan apakah warung kopi samping PMI ini buka atau tidak. Walau jarang minum kopi ditempat ini, tapi aroma dan rasa tidak beda jauh tapi setidaknya saya dapat menjadikan 2 rencana itu dapat berjalan tanpa berpikir ke tempat yang lebih jauh. Seperti halnya hari kantor, warung kopi ’Dottoro’ samping kantor PMI ini juga buka sesuai jam kerja dan tutup dikala para pegawai negeri, yang sebagai besar adalah pelanggannya, pulang kerumah masing-masing.

Setelah masuk ke ruangan tunggu, yang sudah di desain sangat apik dan membuat siapa saja akan betah dan secara tidak langsung dapat memberanikan dirinya mendonorkan darah, saya menyempatkan untuk memeriksa kartu merah, kartu donor darah PMI, apakah sudah menunjukkan waktu yang laik untuk mendonor atau tidak. “ Wah.. keknya masuk ke lembar baru deh..hehehe..” pikirku melihat lembar pertama kartu donor itu sudah penuh, mengindikasikan saya sudah melakukan donor darah yang ke-15 kalinya. Meskipun katanya ada penghargaan kepada siapa saja telah mendonor darah sebanyak lima belas kali, saya tidak terlalu mengharapkan hal tersebut.

“ Yang ke 16 maki donor di pa’ Adil?, banyakmi tawwa...” kata Iccang, salah satu staf yang menyapaku di meja depan bagian pemeriksaan HB, saya cuma tersenyum dan berharap masih bisa memenuhi cap stempel di semua lembar kedua kartu merah itu. Namun, tidak seperti biasanya jika saya datang, ruangan pemeriksaan itu penuh dengan orang yang membutuhkan darah dan tidak mengantre di bagian pendaftaran.

“Pak adil, kasi mi darahta ‘ ke adiknya ini ibu di? Ka dia lagi membutuhkan trombosit secepat mungkin dan kebetulan darahta’ O’ ji juga sesuai dengan yang dia butuhkan! Kan beratta’ 60 kg lebih ji toh?” dengan mimik agak serius, alis mata naik berlawan arah, Iccang memohon ke saya. “dari kita ji pak, atur maki saja, lebih baik lagi kalo saya bisa liat orang yang butuhkan darahku, toh pak? balasku sambil tersenyum, merubah gaya duduknya yang menyamping mengarah komputer yang ada di meja sebelah, sambil melirikku ke kursi sebelah kanan, ada perempuan manis rupanya.

Sambil menemani keluarganya, perempuan itu sempat menegurku “Ade’ku pa’ yang lagi sangat membutuhkan darah, dia sekarang di RS. Stella Maris..terima kasih banyak di’?!”, walaupun gak mengenal orang itu, aku sudah bisa melihat kecemasannya dan rasa terima kasih dari wajahnya. Dengan kata “ iye’ ” saya membalas muka "redut"nya dengan melanga lirih sedikit membagi rasa, Kali ini saya secara kebetulan bertemu orang yang membutuhkan darah saya secara langsung, tidak seperti biasanya, saya cuma mendonor secara aktif tiap tiga bulan tanpa harus tahu dan ketemu siapa yang membutuhkan darah saya.

Sambil melangkah masuk ke ruang donor, dengan asa dapat menyelamatkan Andi makmur, adik dari perempuan itu, sempat ku berpikir, saya bisa membantu orang hari ini walaupun tadinya cuma berencana ke warung kopi.

Rupanya kata guru saya dulu benar adanya, terpikirku walaupun tidak berpengaruh terhadap hidup atau tidaknya seseorang, donor kita itu sangat menolong yang tentunya dengan harapan setidaknya bisa menyelamatkan adik dari perempuan itu. Terkadang, jika melihat lagi kartu merah itu, rasanya ingin donor nyawa sekali lagi.

Aah.. kopi kali ini nikmat dan pengalamannya sangat luar biasa.

1 comment:

santi said...

Hebat.
Wish God give U better

TakingITGlobal - Inspire. Inform. Involve.